Tidak Semua Hal Harus Ada Gunanya

Masih inget nggak, jaman kita sekolah dulu, tiap hari senin selalu ada upacara bendera. Dulu kita berdiri, berbaris, mengibarkan berndera, mendengar wejangan guru, dan lain sebagainya. Coba sekarang pikir, upacara ini ada gunanya nggak sih?

Selama satu jam cuma berdiri doang. Kalau dipikir secara rasional, upacara ini tidak ada gunanya. Dibanding kita upacara, ada banyak hal lain lho yang bisa kita lakukan dan jauh lebih berguna.

Tapi walaupun begitu, anehnya kita sama sekali tidak memandang upacara sebagai hal yang negatif. Bahkan, saya rasa kita sepakat bahwa upacara memang penting. Hal ini karena upacara itu dilakukan bukan karena gunanya, tapi karena nilainya.

Manusia itu sejatinya punya adab. Tidak semua kegiatan yang kita lakukan selamanya berdasar kepada efisiensi dan efektifitas. Ada saatnya kita melakukan hal yang minim dalam guna, tapi kaya akan nilai.

Menjenguk orang yang sakit, datang ke pemakaman, merayakan ulang tahun. Semua kegiatan ini gunanya minim, tapi nilainya? Gimana? Masa iya kalau Anda ngelayat, Anda akan berpikir “Ah elah, didatengin juga nggak akan hidup lagi. Buat apa?”

Ketika kita bersikap di ruang publik. Antara satu kelompok dengan yang lain, nilainya berbeda. Ada kelompok yang percaya bahwa istri harus nurut sama suami. Tapi, di kelompok lain, mereka lebih percaya bahwa istri juga harus independen. Mengadu nilai yang berlawanan di ruang publik, tidak akan berujung pada manfaat. Justru ketika kita ada di ruang publik, kita harus menyesuaikan sikap kita dengan nilai yang disepakati oleh semua pihak.

Kalau yang dibicarakan adalah rumah. Rumah ini bukan ruang publik. Rumah boleh banget digunakan untuk mengekspresikan keyakinan yang kita percayai. Ada keluarga yang percaya dengan Fengsui, ada yang percaya dengan Kejawen, ada yang percaya kalau WC tidak boleh menghadap ke kiblat. Di ruang publik, nilai personal ini tidak boleh sembarang muncul. Justru kalau di rumah boleh banget. Kalau Anda mau mewujudkan nilai personal, wujudkanlah di ruang privat. Jangan sampai terbalik.

Dengan adanya nilai personal penghuni, rumah kita pasti kehilangan beberapa aspek efisiensi. Tangga yang awalnya didesain pakai 24 anak tangga, akhirnya harus dibuat tidak wajar karena yang punya rumah percaya bahwa angka 4 itu tuh artinya “kematitan.” Pintu masuk yang idealnya menghadap depan, jadi harus miring karena yang punya rumah percaya bahwa keberuntungan mengalir dari arah tertentu.

Semua hal diatas mungkin dalam hal guna sangat minim, tapi secara nilai? Sama aja kayak upacara bendera kan? Selama aman dan tidak mengganggu, ruang privat itu boleh kita pakai untuk mewujudkan nilai pribadi yang kita percaya. Pengecualian akan muncul ketika nilai yang Anda percaya ternyata menimbulkan bahaya atau merugikan orang lain. Misal Anda percaya kalau listrik adalah energi positif dan Anda ingin kabel listrik Anda muter dulu sekeliling rumah baru nyambung ke meteran. Kalau kaya gini kan selain bahaya untuk Anda, orang lain juga ikutan susah.

Jangan memaksa mewujudkan sesuatu yang menyusahkan orang lain. Namun, ada banyak juga kasus dimana desainer yang salah mengambil posisi. Yaitu, dengan memaksa client supaya berhenti manganut nilai yang ia percaya. Padahal ketika kita membicarakan tentang rumah, client sebagai pemilik ruang privat punya hak penuh untuk menganut nilai apapun. Ketika kita hanya membicarakan fungsi dan efisiensi, itu bukan rumah untuk manusia. Rumah tersebut hanya berguna, tapi tidak bernilai.