Seni Mengganti Sprei dan Sarung Bantal

Tempat tidur merupakan komponen utama pada sebuah kamar. Letaknya juga pasti pada posisi yang dominan. Luas tempat tidur cukup besar untuk menciptakan perbedaan yang signifikan terhadap citra kamar. Tidak hanya itu, tempat tidur juga pasti dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Maka, bukan hal aneh jika Anda ingin mendekorasi rumah dengan merawat ranjang Anda agar terlihat bagus.

Sebenarnya untuk membuat kamar Anda jadi bagus, memilih sprei dan sarung bantal dengan warna yang matching saja sudah cukup. Tapi, untuk pembahasan pada artikel ini tidak hanya itu. Pertama, Jika Anda ingin membeli sprei dan sarung bantal yang bagus, carilah vendor spesialis. Bukan di toko furnitur, apalagi supermarket. Untuk menemukan vendor bagus, saran saya coba cari di instagram dengan keyword ‘bedding’.

Kalau Anda mencari sesuai saran saya, biasanya Anda akan dapat produk yang modelnya satu paket. Anda dapat sprei, bantal, dan bedcover yang sudah satu tema. Umumnya, ini lebih baik daripada nyari di online shop dengan keyword ‘sarung bantal.’

Selanjutnya, bedcover itu ada dua jenis. Jenis pertama adalah yang kainnya dijahit mati kayak biasa. Ini di Indonesia biasanya disebut bedcover. Cuma ada satu lembar dan intinya tinggal pakai doang. Jenis kedua adalah yang isinya terdiri dari sarung ditambah isian. Ini di Indonesia biasanya disebut duvet. Kadang ada juga sih yang menyebutnya quilt, meskipun sebenarnya berbeda. Mari kita sebut sarungnya sebagai duvet cover dan isian tadi sebagai insert duvet.

Keuntungan menggunakan bedcover adalah praktis, tinggal digelar, kelar deh. Kalau mau ganti tinggal beli lagi aja. Kekurangannya adalah nyucinya agak sulit karena berat dan tebal. Saat dilipat juga memakan tempat. Dari segi tampilan, kalau kalian adalah praktisi seni, maka akan terlihat kadang tampilan bedcover tidak perfect.

Jika Anda memakai duvet. Keuntungannya adalah rapi banget, terus kalau mau dicuci juga tinggal cuci sarungnya saja, Kalau mau mengganti warnanya juga tinggak beli sarungnya saja. Kekurangannya adalah ribet saat pemasangan. Kalau mau membeli lagi juga ukuran sarungnya harus sama. Biasanya jadi harus custom. Saran saya saat Anda ingin membeli duvet, cek dulu cara memasangnya di media online.

Oke, kalau jenisnya sudah paham, sekarang mari kita pilih material. Hal yang perlu Anda pahami, setiap vendor pasti punya bahan yang namanya biki puyeng. Ada yang pake tencil, linen, cotton, dan sebagainya. Daripada pusing, kalian berhak meminta contohnya. Atau datang langsung ke showroomnya. Saran saya apapun bahan yang Anda pilih, kalau ada uang lebih, pilihlah yang bermotif jacquard. Jacquard itu maksudnya motif pada bedding dibuat dari tenunan benangnya. Bukan diprint ataupun disablon, sehingga nantinya pun akan lebih awet.

Gimana sih caranya tau kualitas kain yang baik? Jawabannya ada pada thread count and yarn count. Thread count (TC) adalah tingkat kerapatan benang. Sedangkan Yarn count (YC) adalah seberapa tebal benang. Biasanya semakin tinggi TC dan YC suatu kain, berarti semakin bagus. Untuk hotel biasanya menggunakan standar TC minimal 400 dan YC minimal 40s. Kalau sudah pusing memang lebih baik tanyakan langsung ke vendor. Kalau vendor tidak tahu juga sebaiknya Anda tinggalkan.

Umur kain juga tidak sembarang. Anda perlu tahu standar yang namanya double rub. Pabrik kain interior pasti sudah menguji kain dengan digesek bolak balik berapa kali sampai akhirnya sobek. Misal kain yang Anda beli spesifikasinya 7000 rub, berarti kain tersebut akan robek setelah 7000 kena gesek (rub).

  • <9000 rub             : Cocok untuk kain oramental dan gorden.

  • 9000 – 11999 rub : Kain light duty. Seperti taplak meja atau cushion. Untuk bedding

    bisa, tapi tidak terlalu awet.

  • 12000 – 14999 rub : Untuk bedding sudah tergolong bagus. Namun, jika digunakan

    untuk sofa masih tergolong minimal.

  • 15000+ : Sudah dapat dipakai untuk perabotan yang sehari-hari terkena

    gesekan, seperti sofa.

Mahal ga sih? Jawabannya jelas mahal. Mungkin bisa sekitar 2 sampai 6 juta hanya untuk bedding. Tapi tentu saya lebih respect dengan orang yang boros beli bedding, daripada asal mendekorasi rumah. Beli lemari lah, kursi lah, bongkar pasang keramik, kitchen set masih bagus sudah diganti, buat apa sih? Kenapa tidak membeli barang yang sudah pasti terpakai aja dan memang perlu diganti secara berkala? Masa iya renovasi rumah 10 juta mampu, beli bedding enggak?