Home or Shelter?

Where do you live now? A home or a shelter? Dari jaman purba, bahkan sebelum manusia mengenal tulisan. Manusia sudah memiliki tempat tinggal. Vitruvius di tahun 25 SM sudah punya teori, bahwa manusia punya insting untuk menempati pernaungan (shelter). Ada yang tinggal di dalam gua, dibawah akar pohon, diantara celah karang, dan lain-lain. Meskipun tidak semua manusia beruntung menemukan tempat bernaung. Ada yang terpaksa membuat shelter sendiri dari benda yang dia temukan. Ada yang membuat dari ranting, batu, pasir, dan sebagainya.

Semua shelter yang dibuat, pada dasarnya hanya punya satu tujuan. Yaitu, bertahan hidup. Dengan adanya shelter, manusia jadi terlindung dari cuaca buruk, binatang buas, dan segala ancaman yang datang dari luar. Namun, seiring berjalannya waktu, peradaban manusia berkembang.

Shelter yang tadinya ditempati sementara, kini mulai ditempati secara permanen. Fungsi shelter yang tadinya cuma sekedar untuk bertahan hidup, mulai dituntut untuk punya fungsi lain. Ketika rumah tadi menjadi bagian dari gaya hidup seseorang, maka rumah itu sudah tidak lagi hanya menjadi sekedar tempat untuk tinggal (place for dwelling), tapi menjadi tempat untuk hidup (place for living).

Pernaungan (shelter) tadi, telah berubah menjadi rumah (home). Nah, jadi pertanyaannya adalah, tempat yang sekarang Anda huni, apakah sudah layak untuk untuk disebut sebagai rumah? Apakah fungsinya hanya sekedar untuk bertahan hidup? Jangan-jangan, selama ini Anda tidak punya rumah. Anda hanya punya shelter berupa lantai, dinding, dan atap. Your shelter is made for survival, but not for living. Besar atau kecil, kaya atau miskin, ketika rumah yang Anda punya hanya jadi tempat untuk sekedar bertahan hidup. Maka, itu namanya bukan rumah. Itu cuma shelter.