Guna atau Citra?

Banyak orang mempertanyakan tentang mana yang lebih penting antara tampilan dan fungsi. Untuk mengetahuinya mari kita mulai dari teori Karl BÖtticher. Seorang arkeolog yang berasal dari Jerman yang mengkhususkan diri dalam bidang arsitektur. Menurut BÖtticher, dalam bukunya “Die Tektonik der Hellenen,” bangunan itu bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, namanya core-form. Sisi kedua, namanya art-form.

Core-form adalah, ketika kita melihat suatu bangunan dari sisi yang terkait dengan fungsi, struktural, atau hal lain yang terkait dengan performa bangunan.

Sedangkan art-form adalah ketika melihat bangunan dari sisi yang terkait dengan karakter, kesan, atau hal lain yang terkait dengan apa yang kita rasakan di dalamnya.

Dari dua hal tadi, mari kita lanjut. Jadi lebih penting mana antara tampilan dan fungsi? Apakah yang memiliki core-form bagus, atau justru harus punya art-form bagus? Romo Mangun Wijaya (1998), pernah menulis buku yang isinya kurang lebih mirip dengan teori BÖtticher. Ia menyebut istilah core-form dan art-form ini dengan nama lain, yaitu :

1. Guna

Terkait dengan fisik (core-form)

2. Citra

Terkait dengan makna (art-form)

Dalam buku yang ia tulis, ia menarasikan bahwa guna dan citra ini bisa muncul secara padu dan tidak terpisah. Coba lihat motor balap. Di dalam satu motor, komponennya ada banyak. Ada rem, body, mesin, dan lain-lain. Semua komponen tersebut wajib memiliki nilai guna yang tinggi. Sehingga kalau nanti dipakai untuk balapan, harus jadi juara. Tidak mungkin ada bagian dari motor balap ini yang fungsinya cuma sebatas hiasan.

Meskipun begitu, tetap ada citra yang muncul secara otomatis. Kita bisa merasakan kesan yang gagah, sporty, dan keren. Hal ini menandakan, bahwa keindahan dan fungsi di motor ini datang sebagai satu paket. Bahkan tidak perlu diberikan hiasan apa-apa, motor ini sudah bagus dengan sendirinya. Desain yang seperti ini, adalah contoh desain yang layak dikategorikan bagus. Indahnya itu alami dan murni, bukan karena kosmetik.

Bangunan pun juga sama. Bangunan yang baik, di samping guna nya harus bisa menciptakan keindahan yang padu dan tidak terpisah antara satu sama lain. Mengutip dari Thomas Aquinas “Pulchrum Splendor est Veritatis.” Keindahan adalah pancaran dari kebenaran. Jadi kalau ada pertanyaan, desain yang indah itu yang seperti apa? Maka jawabannya adalah, yang bisa benar dan indah dengan sendirinya tanpa perlu ditambahkan hiasan apapun.

Bayangkan kita makan fine dining di restoran mahal. Kita pasti mau makanan yang tersaji itu langsung enak. Tidak perlu ditambahkan saus, garam, kecap lagi. Kalau masih harus ditambahkan bumbu lain, hhmmm lebih baik makan di warung saja.