Menemukan Jantung (part 2)

Bayangin bapak dan anak sama-sama lagi di rumah, tapi bapak saat mencari si anak bukannya manggil, malah pake whatsapp. Merasa ada yang aneh ga? Jujur, kalau menurut saya hal itu aneh. Maksudnya, kan bisa kalau anak mau ngomong sama bapak ya bisa menghampiri. Terus si bapak juga kalau mencari si anak bisa panggil saja namanya.

Setelah saya pikir-pikir kembali, ternyata orang yang whatsapp-an sama orang yang berada dalam satu rumah itu jumlahnya tidak sedikit. Contohnya, dalam lingkungan pertemanan saya saja ada banyak yang seperti itu. Bahkan sepertinya saya sendiri juga pernah melakukannya, entahlah. Saya yakin, diantara kalian yang membaca tulisan ini juga ada yang merasa relate. Sementara untuk yang masih merasa ini aneh. Selamat, sekarang kalian tahu, bahwa kehidupan orang memang berbeda-beda.

Fenomena ini terjadi pasti ada penyebabnya. Kemudian saya menemukan bahwa desain rumah ternyata punya peran yang cukup signifikan. Coba Perhatikan gambar dibawah ini.

Dari fakta ini saja, mulai bisa memaklumi kenapa bisa ada dua culture yang berbeda. Banyak orang yang jika berkesempatan memiliki rumah, ingin rumah yang besar. Di pikiran orang-orang ini mungkin berkata, “Semakin besar rumah saya, berarti semakin bagus pula.” Jika begitu, apakah semua orang kaya itu sombong? Menurut saya, tidak juga. Toh, jika saya berkesempatan, saya juga ingin memiliki rumah yang besar.

Bayangkan Anda yang sudah bekerja keras seumur hidup. Misal selama 10 tahun, Anda mati-matian lembur di kantor, menghemat uang makan, sampai akhirnya punya uang untuk beli tanah. Tanah tidak besar, tapi uang Anda banyak. Lalu Anda putuskan untuk hire desainer buat bangun rumah. Kira-kira apa yang anda minta? Percayalah, kurang lebih Anda akan mengatakan “Give me the biggest f*cking house

Rumah itu mahal, apalagi yang mewah. Kalau sampai punya uang untuk membeli atau membangun, kemungkinannya ada dua. Entah kita sudah bekerja keras seumur hidup, atau mendapat rejeki nomplok dari langit (yang kemungkinannya sangat kecil). Seseorang pasti cenderung meminta agar rumah yang dibangun jadi semewah mungkin. Sebagus mungkin, sebesar mungkin supaya ada kepuasan dalam diri kita yang berkata, “Tidak sia-sia perjuangan saya selama ini.”

Banyak orang lupa atau mungkin tidak tahu. Bahwa rumah yang bagus tidak ditentukan oleh fisiknya, tapi oleh kehidupan di dalamnya. Bapak di kamar, adik di kamar, kakak di kamar, mama masak di dapur tidak ada yang melihat. Whould be that the type of home that you wanted? The one that you would like to pay so much for? Atau jangan-jangan, sekarang pun rumah anda demikian? Tell me if you had this kind of experience. Leave a comment and tell me what do you think.