Pengkaitan Profesi Kuli dan Etnis Jawa Merupakan Kesalahan, tapi Nggak Salah-salah Amat

Art by Pixabay.com

Pengkaitan antara profesi kuli dan ras Jawa sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Namun, menurut saya hal ini terjadi disebabkan oleh sejarah yang panjang. Pulau Jawa, merupakan daerah dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Wajar saja jika banyak  profesi yang didominasi oleh ras Jawa, dan Kuli hanya salah satunya. Selain itu, sebenarnya stereotip ini tidak sepenuhnya buruk.
Jika ditelusuri lebih dalam, orang Jawa dapat tersebar kemana-mana karena beberapa alasan. Pertama, agar persebaran penduduk di Indonesia lebih merata. Kemudian, mengapa kuli dari Jawa itu terkenal dan bahkan sampai di export ke pulau-pulau lain itu karena mereka mau kerja, pekerjaannya lebih baik, tidak banyak istirahat, dan murah. Mungkin karena budaya yang ada di tanah Jawa sudah melekat kepada orang-orang ini, seperti tidak banyak mengeluh sehingga dengan upah sama bisa dapat hasil lebih bagus jadi menghemat anggaran. Orang Jawa juga tidak banyak gengsi. Kontraktor pun banyak yang berasal dari Jawa, tentu mereka akan membawa orang kepercayaan yang dari daerah yang sama.
Sebenarnya pengkaitan antara suatu profesi dan ras merupakan salah satu bentuk rasisme. Namun, bukan berarti hal ini buruk, – makanya saya bilang dijudul bahwa ga salah-salah amat – semuanya tergantung konteks komunikasi. Hal ini juga tidak hanya dialami oleh etnis jawa. Banyak sekali sebenarnya stereotipe semacam ini yang berseliweran. Seperti orang batak jadi montir, orang padang jadi tukang masak, dan pejabat jadi tukang bohong.
Dalam hal ini, sebagian orang juga menganggap ini adalah lelucon yang lucu. Misal ada orang Batak bertemu orang Jawa :
Batak   : “Widihh ada kuproy nih, tumben ga pakai baju partai dan helm proyek.”
Jawa    : “Idiihhh montir bisa ajee, bongkar CVT dulu sana!”
Kembali lagi, kenapa orang-orang mengkorelasikannya demikian karena memang ada beberapa alasan yang menguatkannya. Meskipun sebenarnya tidak relevan kalau dibilang karena kuli Jawa lebih “bagus” dan montir batak lebih “hebat.” Karena semua orang bisa jadi ahli ya kalau memang mau belajar. Jadi saat kalian mencari pekerja dibandingkan mencari berdasarkan suku dan daerah lebih baik memilih pekerja yang sudah biasa dan berpengalaman dalam pekerjaannya.